halaman

Minggu, 21 April 2013

Makalah ilmu Tasawuf



  

 Diajukan untuk memenuhi tugas Individu Mata Kuliah Metodologi Studi Islam.




Dosen: Rofiq Azhar, S. Ag. MM
Disusun Oleh: Ujang Abdul Fattah
Prodi: PAI A
Semester: 1

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI)
AL- MUSADDADIYAH GARUT
Jl. Mayor Syamsu No. 2 Tlp. (0262) 232334 Fax. (0262) 242017 Jayaraga - Tarogong Kidul Garut 44152



KATA PENGANTAR

            Alhamdulillah segla puji hannya kepada allah, yang mana telah memberikan kita nikmat, hidayah dan taufiqnya. Sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan semaksimal mungkin. Shalawat dan salam –Nya, semoga tetap tercurah limpahkan kepada junjunan alam, yakni nabi besar Muhammad SAW. Yang kita nanti-nantikan syafaatnya didunia dan akhirat.
            Sudah sepantasnya kita menyadari, bahwa dalam cara kita beribadah memuji dan menyembah kepada Allah SWT. Itu terdapat ilmu dan tatacara praktiknya. Ilmu yang dimaksud adalah ilmu tasawuf. Ilmu tasawuf membantu kepada seorang yang beragama islam, untuk senantiasa membantu mendekatkan diri kepada Allah SWT. Yang mana didalamnya mengajarkan kita untuk senantiasa melaksanakan segala bentuk akhlak-akhlak yang terpuji, membiasakan melapalkan kalimat-kalimat toyyibah,melakukan riyadhoh, guna membantu seseorang untuk lebih dekat dengan Allah SWT.
            Penulis menyadari, bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan dan kesalahan. Tetapi penulis berharap, semoga dalam penulisan makalah ini didapat manfa’at-Nya khusus-Nya bagi penulis dan umum-Nya bagi pembaca. Untuk itu, kritik dan saran sangat diharapkan penulis supaya dalam penulisan makalah yang berikut-Nya, dapat lebih baik.




BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang
Tasawuf merupakan salah satu bidang studi islam, yang memusatkan pembahasan pada pembersihan aspek rohani manusia yang selanjutnya akan menimbulkan akhlaq mulia. Pembersiahan aspek rohani atau batin ini, selanjutnya dikenal  sebagai dimensi esoteric dari diri manusia. Hal ini berdeda dengan aspek fiqih, khususnya pada bab thaharoh yang memusatkan perhatian pada pembersihan aspek jasmaniah atau lahiriah yang selanjutnya disebut sebagai dimensi eksoterik.
B.   Tujuan dan Manfaat
Tujuan dari perumusan makalah ini, adalah untuk memberikan informasi kepada pembaca mengenai ilmu tasawuf. Manfaat dari ilmu tasawuf ini adalah, sebagai pelantara seseorang  untuk membersihkan hati dari sifat-sifat yang tidak sesuai dengan ajaran islam. Serta member bekal kepada seseorang menuju keabadian yang hakiki.
C.   Perumusan Masalah
Penulis merumuskan masalah dalam makalah ini megenai:
1.    Pengertian Tasawuf
2.    Sejarah  Tasawuf
3.    Macam-macam Tasawuf
4.    Pemikiran Tasawuf
5.    Manfaat Tasawuf
D.   Metode Pengumpulan Data
Metode yang digunakan oleh penulis dalam mengumpulkan data, sangat sederhana. Penulis mengumpulkan informasi dari beberapa buku media internet dalam rangka mengumpulkan data.
Kemudian dibaca dengan seksama selanjutnya disusun secara sistematis.




E.    Sistematika
Makalah ini dibagi menjadi 5 poin pembahasan. Yang ke-1, mengenai pengertian tasawuf. Yang ke-2, mengenai sejarah tasawuf. Yang ke-3, mengenai macam-macam tasawuf. Yang ke-4, mengenai pemikiran tasawuf. Yang ke-5, mengenai manfaat tasawuf.



















BAB 2
MENGENALI TASAWUF

A.   Pengertian Tasawuf
1.    Tasawuf Menurut Bahasa
Dari segi kebahasaan (llinguistik), terdapat beberapa kata/ istilah yang disangkut pautkan dengan istilah tasawuf. Seperti halnya Harun Nasution, yang membagi kata/ istilah yang berhubungan dengan istilah tasawuf. Antara lain: As-suffah, yaitu orang-orang yang ikut berhijrah dari kota makkah ke kota madinah, bersama nabi
Muhammad saw. Kemudian saf, yaitu barisan orang-orang yang ada dalam shalat berjama’ah. Kemudian sufi, yang artinya bersih dari apasaja. Kemudian sophos,yang berasal dari bahasa yunani, yang artinya hikmah. Dan yang terakhir adalah suf, yang artinya kain wol kasar.
Jika kita perhatikan secara seksama, dari nkelima istilah diatas terdapat sejumlah kesamaan yang saling berkaitan. Diantaranya membahas mengenai sifat-sifat terpuji, kesederhanaan dan kedekatan dengan Allah. Seperti kata as-suffah,itu menggambarkan orang-orang yang rela mencurahkan dirinya, harta bendanya, sanak saudaranya, hannya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Mereka rala meninggalkan kampung halamannya, rumah, kekayaan dan sebagainya yang ada dimakkah yang kemudian untuk pergi berhijrah kemadinah. Ini semua terjadi karena adanya iman yang kuat serta dilandasi oleh keinginan serta tekad yang kuat untuk memperjuangkan agama Allah.
Selanjutnya kata sof juga menggambarkan keadaan  seseorang yang senantiasa selalu adadibarisan depan dalam salat berjama’ah, terdepan dalam melaksanakan kebajikan. Demikian pula kata sufi, yang berarti bersih dan suci. Artinya orang selalu menjaga dirinya agar jiwa dan hatinya tidak terkotori oleh sifat- sifat yang tercela dan perbuatan dosa. Selanjutnya kata suf, yang berarti kain wol yang kasar, ini menunjukkan/ menggambarkan adanya suatu hidup kesederhanaan pada diri seseorang yang bertasawuf. Semua ini disebabkan karena mereka sudah tidak memperdulikan kehidupan dunia, mereka hanya berfokus untuk mencari jalan supaya lebih dekat lagi dengan Allah. Karena mereka pecaya, bahwa “cinta pada dunia itu adalah pokok dari segala bentuk dosa/ kejahatan”. Demikian pula kata sophos, yang berarti hikamah dan keadaan orang yang jiwanyasenantiasa cenderung pada kebenaran.
Dengan demikian, dari segi kebahasaan tasawuf menggambarkan keadaan seseorang yang selalu berorientasi kepda kesucian jiwa, mengutamakan Allah, berpola hidup sederhana, mengutamakan keenaran, rela berkorban demi kemajuan Islam. Sikap demikian itu akan membentuk jiwa dan mental yang kuatdalam menghadapi problematika kehidupan yang kian menyesatkan.
2.  Taswuf Menurut Bahasa
              Selain pengertian  tasawuf dari segi kebhasaan, ada juga tasawuf dari segi istilah. Dalam kaitan ini, para ahli mendefinisikan tasawuf berdasarkan tiga sudut pandang yang berbeda. Pertama,tasawuf dilihat dari sudut pandang manusia sebagai makhluk yang terbatas. Kedua, tasawuf dilihat dari sudut pandang manusia sebagai makhluk yang harusa berjuang. Ketiga, tasawuf dilihat dari susut pandang manusia sebagai makhluk bertuhan.
          Jika dilihat dari susut pandang manusia sebagai makhluk yang terbatas, tasawuf dapat didefinisikan sebagai upaya penyucian diri dengan cara menjauhkan pengaruh kuhidupah dunia memusatkan perhatian hanya kepada Allah. Selanjutnya, jika sudut pandang yang digunakan adalah pandangan bahwa manusian sebagai makhluk yang harus bejuang, tasawuf dapat didefinisika sebagai uapaya memperindah diri dengan akhlak yang bersumber pada ajaran agama dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dan jika sudut pandang yang digunakan adalah manusia sebagai makhluk bertuhan, tasawuf dapat didefinisikan sebagai keadaan fitrah (perasaan percaya kepada tuhan) yang dapat mengarahkan jiwa agar selalu tertuju pada kegiatan-kegiatan yang dapat menghubungkan manusia denga Tuhan.
        Jika ketiga definisi tasawuf tersebut satu dan lainnya dihubungkan, segera tampak bahwa tasawuf pada intinya adalah upaya melatih jiwa dengan berbagai kegiatan yang dapat membebasakan diri manusia dari pengaruh kehidupan duniai, selalu dekat denganAlah, sehingga jiwanya bersih dan memancarkan akhlk mulia.

   B.  Sejarah Tasawuf
               Tasawuf lahir dan berkembang sebagai suatu disiplin ilmu sejak abad ke-2 H, melalui Imam Hasan Al-Basri, Sufyan Al-tsauri,
       Al-Harits Ibn Asad Al- Muhasibi, Abu Yazid Al- Bustami.
               Jika kita lihat dari tokoh-tokoh perintis diatas, maka tasawuf lahir dan berkembang dari daerah asal penyiaran islam yaitu Makkah dan Madinah.
               Perkembangan dan pertumbuhan tasawuf didunia islam melalui beberapa tahap. Antaralain:
       1. Tahap Zuhud
              Thap awal perkembangan tasawuf, dimulai pada akhir abad ke-1 H sampai kurang lebih abad ke-2 H.
              Gerakan zuhud pertama kali muncul di Madinah dengan tokohnya :
         a. Dari kalangan sahabat Nabi Muhammad SAW., Abu Ubaidal Al- Jarrah (w. 18 H), Abu Dzarr Al- Gifari (w. 22 H), Salman Al-
             faritsi (w. 32 H), Abdullah Ibn Mas’ud  (w. 33 H).
         b. Dari kalangan tabi’in, Sa’id Ibn Musayyad (w. 91 H) dan Salim Ibn Abdullah (w. 106 H).
               Kemudian dari Basrah dengan tokohnya, Hasan Al- Basri (w. 110 H), Malik Ibn Dinar (w. 131 H), Fdhl Al- Raqasyi, Kahmas Ibn Al- Hadan Al- Qais (w. 149 H), Shalih Al- Muri dan Abul Wahid Ibn Zaid (w. 171 H).
               Selanjutnya dari Kufah dengan tokohnya, Al- Rbi Ibn Kasim (w. 96 H), Said Ibn Jubair (w. 96 H), Thawus Ibn Kisan (w. 106 H), Sufyan At- Tsauri (w. 161 H), Al-Lits Ibn Said (w. 175 H), Sufyan Ibn Uyainah (w. 198 H).
               Selanjutnya dari Mesir dengan tokohnya, Salim Ibn Attar Al-Tajibi (w. 75 H), Abdurrahman Al-Hujairah (w. 83 H), Nafi, hamba sahaya Abdullah Ibn Umar (w. 171 H).
       Pada masa terakhir tahap ini, muncul tokoh- tokoh yang dikenal denga sufi sejati. Diantaranya: ibrahim Ibn Adhan (w. 161 H), Fudail Ibn Iyad (w. 187 H), Dawud Al- Ta’I (w. 165 H), Rabi’ah Al- Adawiyyah (w. 185 H), Ma’ruf Al- Karahil (w. 200 H), Suri Al- Sakathi (w. 253 H), Dzul Nun Al- Mishri (w. 245 H), Abu YAzid Al- Busthami (w. 260 H).
       2. Tahap Tasawuf
               Paruh pertama abad ke-3 H, wacan tentang zuhud digantikan dengan tasawuf. Ajaran para sufi, tidak lagi terbatas pada amaliah (aspek praktis), berupa penanaman akhlak. Tetapi sudah masuk keaspek teoritis (nadhari), dengan memperkenalkan konsep- konsep dan terminology baru yang sebelumnya tidak dikenal. Seperti, Al- Maqam, Al- haal, Al- Ma’rifah, Al- Tauhid (dalam makna tasawuf yang khas), Al- Fana, Hulul dan lain-lain.
               Diantara tokoh-tokohnya, antara lain: Ma’ruf Al- Khorkhi (w. 200 H), Abu Sulaiman Al- Darani (w. 254 H), Dzul Nun Al- Msri (w. 254 H) dan Junaid Al- Baghdadi.
       Maka muncullah karya- karya tulis yang membahas tasawuf secara teoroitis, termasuk karya Al- HaritsIbn Asad Al- Muhasib (w. 243 H), Abu SA’id Al- Kharraz (w. 279 H), Al- Hakim At- Tirmidzi (w. 285 H) dan Junaid Al- Bagdadi.
3. Tahap Tasawuf Falsafi (Abad ke 6 H)
        Pada tahap ini, tasawuf falsafi merupakan perpaduan antara pencapaian pencerahan mistikal dan pemaparan secara rasional-filosofis. Ibn Arabi, merupakan tokoh utama aliran ini dan  juga Al Qunawi muridnya. Sebagian ahli juga memasukan Al Hallaj dan Abu  Yazid Al Busthami dalam aliran ini.
       Aliran ini terkadang disebut juga dengan istilah Irfân (Gnostisisme), karena orientasinya pada pengetahuan (ma’rifah atau gnosis) tentang Tuhan dan hakikat segala sesuatu.
4. Tahap Tarekat ( Abad ke-7 H dan seterusnya )
         Meskipun tarekat telah dikenal sejak  dahulu, seperti tarekat Junaidiyyah, yang didirikan oleh Abu Al Qasim Al Juanid Al Baghdadi (w. 297 H) atau Nuriyyah, yang didirikan oleh Abu Hasan Ibn Muhammad Nuri (w. 295 H), baru pada masa-masa ini  tarekat berkembang dengan pesat. Seperti Tarekat Qadiriyyah, yang didirikan oleh Abdul Qadir Al Jilani (w. 561 H) dari Jilan (Wilayah Iran sekarang), Tarekat Rifa’iyyah, yang didirikan oleh Ahmad Rifai (w. 578 H), Tarekat Suhrawardiyyah yang didirikan oleh Abu Najib Al- Suhrawardi (w. 563 H), Tarekat Naqsabandiyah yang memiliki pengikut paling luas, tarekat ini sekarang telah memiliki banyak variasi , pada mulanya didirikan di Bukhara oleh Muhammad Bahauddin Al Uwaisi Al Bukhari Naqsyabandi dan Tarekat At- Tijaniah, yang didirikan oleh Syekh Muhammad Ibn Ahmad At- Tijani. yang penyebarannya sudah mulai meluas  dibeberapa daerah terutama kabupaten Garut yang proses penyebaran ajarannya berpusat di Pondok Pesantren Al- falah Biru.

C.  Macam- Macam Tasawuf
            Secara umum tasawuf terbagi kedalam tiga bagian besar, yaitu tasawuf Aklaki, tasawuf Amali, tasawuf Falsafi.
1. Tsawuf Akhlaki
            Tasawif akhlaki adalah tasawuf yang menekankan pada pendalaman dan pengalaman spiritual untuk membangun akhlak mulia.
hal ini diperlukan upaya mencapai tingkat kesempurnaan dan kesucian jiwa. untuk itu diperlukan latihan mental yang panjang. Didalam tasawuf dikenal istilah riyadhoh jiwa, yang guna dan fungsinya untuk melatih jiwa serta membiasakan diri untuk terus menerus melapalkan kalimat- kalimat tauhid, syahadat, tasbih dan yang lainnya secara istiqomah. kemudian hasil dari sikap istiqomah ini, akan melahirkan sikap sakinah.Yaitu keteduhan batin yang dapat membabwa seseorang mengayuh langkah secara pasti untuk merengkuh sikap muthmai’nnah yang merupakan sikap optimal dari keteguhan hati.
           Setelah seseorang mencapai tahapan muthmai’nnah ini, seseorang dapat menempati maqam   (station) yang menjuntai dalam ruang-ruang tasawuf. Dari kondisi ini seseorang akan mendapat pencerahan pada pertemuan spiritual dengan Allah dalam tangga Ma’rifat.
          Melalui disiplin kerohanian inilah, seorang sufi dapat memperoleh suatu maqam yang abadi. Diantarannya maqam dalam tasawuf adalah taubah, wara’, zuhud, faqr, sabar, tawakkal, dan ridho. Dari maqam tersebut akan muncul keadaan jiwa (akhwal) yang mencakup murraqabah, qarb (kedekatan dengan Allah), khauf (takut kepada Allah), raja (berharap penuh kepada Allah), musyahadah (berantai-intai) dan yakin akan pertemuan dengan Allah.
          Salah satu tokoh dalam tasawuf akhlak adalah Al- Ghazali. Dalam kitabnya pada bab mengenai Ketercelaan Dunia, ia menekankan bahwa untuk mencapai kesempurnaan akhlak, hal utama yang harus dilakukan adalah manajemen hawa nafsu. Upaya yang harus dilakukan, antara lain adalah melepaskan kesenangan duniai untuk mencapai kecintaan kepada Allah. Sebagaimana Nabi bersabda:

          Artinya: cinta pada dunia itu adalah pokok dari segala dosa/ kejahatan.
          Orang boleh kaya dunia, tetapi nabi sulaiman as. dan para sahabat yang kaya, kita harus menundukkan dunia, dunia tidak boleh diletakkan dalam hati.
          Dalam pandangan Al-Ghizali, manusia memiliki kecenderungan untuk mengikuti hawa nafsunya yang ingin mengusai dunia dan berkuasa di dunia sehingga cinta manusia pada dunia menutupi cintanya kepada Allah. Dan ini merupakan dasar dari kehancuran moral (akhlak) manusia.
          Untuk mencapai kesempurnaannya, ada beberapa langkah yang harus ditempuh manusia menurut tasawuf, yaitu: 
a.    Takhalli, yakni membersihkan dan mengosongkan diri sifat-sifat tercela, dari maksiat lahir dan batin. Membersihkan dari sifat- aifat tercela ini, oleh kaum sufi, dipandang penting karena sifat-sifat itu merupakan “najis maknawi”. Adanya najis ini pada diri seseorang menyebabkan ia tidah mungkin dekat dengan Allah, sebagaimana kalau mempunyai najis “dzati”, ia tidak mungkin dapat nendekati atau melakukan ibadah yang diperintahkan Allah SWT. Menurut Al-quran, orang yang membersihkan jiwa dari sifat- sifat tercela dan perbuatan dosa ini adalah orang- orang yang mendapatka kebahagiaan sejati. Sebagaimana Allah berfirman dalam kitabnya :

Artinya: Sungguh berbahagialah orang yang membersihkan jiwa dan dia ingat sama tuhannya, lalu dia melakukan shalat. (Q.S Al-‘Ala : 14-15)
b.    Tahalli, yakni upaya menghiasi diri dengan kebiasaan, sikap, dan perilaku yang baik.     Berusaha agar dalam gerak dan perilakunya selalu ada dalam jalur agama, baik kewajiban yang bersifat “ luar” atau ketaatan lahir maupun yang bersifat ketaatan batin. Yang dimaksud dengan ketaatan lahir adalah kewajiban yang bersifat formal syari’at, seperti shalat lima waktu, puasa, zakat, haji dan nikah dsb. Sedangkan yang dimaksud dengan ketaatan batin adalah seperti tobat, ikhalas, tawakkal, sabar, qana’ah (menerima apa adanya), ridho, tawadhu (rendah hati), khusyuk dalam ibadah, zuhud, faqr dan muraqqabah.
c.    Tajalli, yakni pengisian rasa cinta dan rindu terhadap Allah SWT. Yang dengan posisi ini akan terbuka nur illahi pada diri seorang sufi, sehingga tersingkapnya cahaya goib oleh hati dan lenyapnya hijab (ding-ding penghalang) antara hamba dengan hambanya. Dalam pengertian ini, para sufi mendasarkan pendapatnya pada firman Allah SWT.,



Artinya: Allah adalah cahaya langit dan bumi. (Q.S An- Nur 35)
          Dalam keaadaan seperti ini,, mustahil seorang hamba dapat menutupi cahaya, sedang cahaya itu terpancar dalam segala yang tertutup, apalagi Allah adalah cahaya seluruh langit dan bumi. Nabi pernah bersabda, “ bahwasannya Allah itu tajalli bagi manusia umumnya, bagi Abu Bakar khususnya.
          Menurut Al- Ghazalli, tersingkapnya hal-hal goib yang menjadi pengetahuan kita yang hakiki disebabkan adanya cahaya yang dipancarkan Allah kedalam dada atau hati seseorang. Hal itu kata Al- Ghozalli, tidak dapat disusun dengan dalil dan menata argumentasi, tetapi karena nur yang dipancarkan Allah kedalam hati; dan nur ini merupakan kunci untuk sekian pengetahuan. Karena itu lanjut Al- Ghazalli: barang siapa yang mengira bahwa tersingkapnya itu tergantung pada dalil-dalil semata, maka sesungguhnya ia telah menyempitkan rahmat Allah yang luas. Pendapat Al- Ghozalli ini, disandarka pada sebuah hadis yang sebab turunnya berhubungan erat dengan sebuah pertanyaan yang daijukan kepada Nabi Muhammad SAW oleh seorang sahabat menganai arti “ melapangkan dada” dalam firman Allah Swt,

Artinya: Barang siapa yang hendak diberi Allah petunjuk, maka dilapangkan-Nya dadanya untuk islam. (Q.S Al-An’am)
Nabi menjawab, “ itu adalah nur yang dimasukan Allah Swt kedalam hati. Kemudian ketika ditanya tentang tanda-tandanya, Nabi menjawab, “ menjauhi dunia yang menipu dan dan menghadap dengan sepenuh hati mennuju alam keabadian.
2.  Tasawuf Amali
          Tasawuf amali adalah jalan tasawuf yang harus dialakukan melalui bimbingan guru tasawuf. Hal ini mengingat bahwa untuk menjalani kehidupan tasawuf, ada orang yang mampu melakukannya sendiri dan ada yang harus dibimbing oleh seorang ahli tasawuf. Dalam tasawuf amali dikenal strata sebagai berikut:
ü Murid, yaitu orang yang mencari pengetahuan dan bimbingan dalam melaksanakan amal ibadahnya, dengan memusatka perhatian dan usahanya kedalam tujuannya ini, serta menahan segala kemauannya dengan menggantungakan diri dan hidupnya kepada iradah Allah. Dalam kalangan ini, murid diklasifikasikan dalam tiga kategori yaitu pemula, menengah dan tingggi.
ü Syekh/ mursyid, yaitu pemimpin sufi, pembimbing dan pengawas para sufi. Hubungan muruid dengan syekh/ mursyid adalah hubungan penyerahan diri sepenuhnya. Dengan kata lain, murid harus tunduk, setia dan rela dengan segala perlakuan syekh kepadanya.
ü  Wali dan Qutb, yaitu orang telah sampai kepuncak kesucian batin, memperoleh ilmu ladini yang tinggi sehingga tersingakap tabir rahasia hal-hal gaib, baginya ia telah mendapat karamah. Adapun qutb adalah seorang wali yang telah berfungsi sebagai “ahli waris para nabi” yang melanjutakan perjuangan nabi. Tingkat kesucian jiwa, kedalaman ilmu, dan ketaatan para qutb hampir sama dengan nabi. Perbedaanya adalah Nabi memperoleh ilmu melaliu wahyu, sedangkan qutb memperoleh ilmu melalui ilham.
3.    Tasawuf Falsafi
             Tasawuf falsafi meruoakan reaksi sebagian kalangan tasawuf atas teori-teori yang dikemukakan para filusuf mutakallimin. Karena harus menyesuaikan diri dengan teori filsafat, para filsuf atau mutakallimin ini menaggalkan sebagian sifat Tuhan. Secara garis besar, konsep meraka dalam teologi islam dapat dibagi tiga bagian, yaitu konsep etika, konsep estetika dan konsep kesatuan wujud.
             Konsep etika tentang tuhan menyatakan bahwa Dzat Tuhan merupakan kekuasaan, daya dan iradat yang mutlak. Tuhan merupakan pencipta dan penguasa tertinggi dalam segala hal, termasuk tingkah laku manusia. Tokoh yang mewakili kelompok ini adalah Hasan Al-Bashri.
             Konsep estetika menyatakam bahwa antara Tuhan dan manusia terdapat jalur timbale balik. Konsep ini pertama kali di lahirkan oleh Rabi’ah Al- Adawiyah. Karakteristik yang menonjol dalam konsep ini adalah kecintaan yang luar biasa pada Tuhan.
             Konsep kesatuan wujud di pelopori oleh Ibn A ’rabi yang inti ajarannya adalah alam realitas (dunia fenomena) ini merupakan bayangan dari suprarealitas (Tuha). Satu-satunya wujud yang hakiki adalah Tuhan dan Tuhan adalah wujud yang tidak dapat diberi sifat-sifat.

D.  Pemikiran Tasawuf
               Keistimewaan tasawuf sebagai salah satu intuisi islam adalah penekanan pada aspek psikis spiritual dan cara hidupnya yang lebih mengutamakan pengagungan tuhan dan membebaskan diri dari sifat egoism. Sebab bagi seorang sufi, melakukan dosa/ maksiat  Itu hukumya  adalah najis maknawi. Mala jika tidak dibersihkan akan menjadi sebab menjauhnya diri seseorang terhadap Tuhan. Seabagaimana seorang yang hendak melakukan shalat, tetapi ia mempunya najis. Maka ia, tidak dapat mendirikan shalat.

F.    Manfaat Tasawuf
            Adapun manfaatnya: untuk mendidik hati sehingga mengenal dzat Allah, sehingga berbuah kelapangan dada, dan bersih hati berbudi pekerti yang luhuur menghadapi semua makhluk.
            Abul hasan Asysyadili ra. Berkata : perjalanan kami terdiri atas lima:
1)  Takwa pada Allah lahir batin dalam pribadi sendiri atau di muka umum.
2)  Mengikuti sunnaturrasul dalam semua kata dan perbuatan.
3)  Mengabaikan semua makhluk dalam kesukaan atau kebencian mereka (yakni: tidak menghiraukan apakah mereka suka atau benci).
4)  Rela (ridho) menurut hokum Allah ringan atau berat.
5)  Kembali kepada Allah dalam suka dan duka.
           Maka untuk melaksanakan taqwa harus berlaku wara’  (menjauh dari semua yang makruh, subhat dan haram), dan tetap istiqamah dalam mentaati semua perintah, yaitu tetap tabah tidak berubah.
           Dan untuk melaksanakan sunnaturrasul harus selalu wapada dan melakukan budi pekerti yang baik (luhur).
           Dan untuk melaksanakan tidak hirau pada makhluk dengan sabar dan tawakkal (berserah diri pada Allah ta’ala).
              Dan untuk melaksanakan rela (ridho) pada Allah dengan terima (qana’ah/ tidak rakus) dan menyerah.
          Dan untuk melaksanakan kembali pada Allah dalam suka duka denga bersyukur dalam suka dan beerlindung kepadanya dalam duka. Yang mana semua ini berpokok pada lima criteria:
1)  Semangat yang tinggi
2)  Berhati-hati dari yang haram atau menjaga kehormatan
3)  Baik dalam berkhidmat sebagai hamba
4)  Melaksanakan kewajiban
5)  Menghargai (menjunjung tinggi) nikmat
           Maka siapa yang tinggi semangat, pasti naik tingkat serajatnya. Dan siapa yang meninggalkan larangan yang diharamkan Allah, maka Allah akan menjaga kehormatannya. Dan siapa yang benar dalam ta’atnya, pasti mencapai tujuan kebesaran-Nya/ kemuliaan-Nya. Dan siapa yang melaksanaka kewajibannya dengan baik, maka bahagia hidupnya. Dan siapa yang menjunjung nikamat, berarti mensyukuri dan selalu akan menerima tambahan nikmat yang lebih besar.



BAB 3
PENUTUP

1.    KESIMPULAN
    Kesimpulan dari seluruh bahasan dalam makalah ini adalah bahwa sesungguhnya tasawuf jika dilihat dari segi ke bahasaan (linguistik) terdapat baberapa istilah, diantaranya kata al-sufah, suf, saf, sufi dan sophos. Kemudaian dari segi istilah, tasawuf dapat didefinisika kedalam tiga sudut pandang yang berbeda. Yang pertama, sudut pandangmanusia adalah makhluk yang terbatas. Yang ke dua, sudut pandang manusia sebagai makhluk yang berjuang. Yang terakhir, sudut pandang manusia sebagai makhluk bertuhan.
    Macam-macam tasawuf itu berbeda-beda, secara umum tasawuf terbagi kedalam tiga bagian besar. Yaitu tasawuf akhlaki, tasawuf amali dan tasawuf falsafi. Kemudian dalam mencapai kesempurnaan, seorang sufi harus mencapai tiga aspek. Yaitu takhalli, tahalli, tajalli. Dan bilamana seorang sufi dapat menempuh/ menyelesaikan ketiga rintangan ini,maka ia akan selalu merasa dekat dengan Allah dimanapun dan kapanpun. 

2.    SARAN
Sebagai seorang muslim, kita dianjurkan untuk mengetahui hal-hal yang dipelajari dalam agama islam. Terutama hal-hal yang ada kaitannya dengan dimensi-dimaensi islam. Yang mana dimensi-dimensi islam itu ada tiga. Yaitu Rukun Islam, Rukun Iman dan Ihsan. Dan tasawuf merupakan bagian dari salah satu dari ketiga dimensi tadi, yakni kaitannya dengan Ihsan.
Maka seseorang yang belajar ilmu tasawuf, setidaknya ia akan mengetahui mengenai cara-cara supaya hati menjadi bersih, kehidupan menjadi tenang dan keselamatan dunia akhirat. Apalagi jika ia berusaha mengamalkannya. Maka kalau kita perhatikan seseorang yang mengalkan tasawuf, selain kehidupannya tenang juga ia lebih dekat dengan Allah.


DAFTAR PUSTAKA

Al- Quran Al- karim
Sofyan, ayi. 2010. Kapita Selekta Silsafat. Bandung: Pustaka Setia.
Ahmad hidaya, asep. 2009. ketenagan Jiwa. Bandung: Marja.
Bahreisyi, salim. Tt. Terjemah Al-hikan. Surabaya: Balai Buku.
Abd, Al-kadir Mahmud. 1966. Al-falsafah Al-sufiah fi Al-islam. Dar Al-fiqr Al-‘raby.
Ae, Afifi. 1989.Terjemah Phisikal philosophy of Muhyiddin ibn ‘Araby. Jakarta: Gaya Media Pratama.
Ahmad, Abu.1982. Filsafat Islam. Semarang: Toha Putra.
Al-kalabazi. 1969. Al-Ta’aruf limadzhab Ahl As-Sufiyah. Kairo: Maktab Al-Kuliyah Al-azhariah.












Tidak ada komentar:

Posting Komentar