halaman

Minggu, 21 April 2013

perkembangan emosi

PERKEMBANGAN EMOSI PADA ANAK







BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar belakang Masalah
Paraahli psikologi sering menyebutkan bahwa dari semua aspek perkembangan, yang paling sukar untuk diklasifikasikan adalah perkembangan emosional.Reaksi terhadap emosi pada dasarnya sangat dipengaruhi oleh lingkungan, pengalaman, kebudayaan, dan sebagainya, sehingga mengukur emosi itu agaknya hampir tidak mungkin.Perkembangan emosi pada anak menurutJohn B. Watson (dalam Mahmud, 1990) ada tiga yaitu, takut, marah dan cinta.Perkembangan pada anak bukan hanya dipengaruhi oleh emosi saja, namun juga dipengaruhi oleh perkembangan moral dan spiritual.Banyak sekali faktor-faktor yang memepengaruhi perkembangan pada masa kanak-kanak. Maka dari itu, kami akan mencoba memaparkan masa perkembangan pada masa kanak-kanak.

1.2 Rumusan Masalah
1.      Bagaimana tahap perkembangan emosi pada masa kanak-kanak?
2.      Apa saja jenis-jenis emosi pada masa kanak-kanak?
3.      Bagaimana pengaruh emosi terhadap prilaku?
4.      Apa saja ciri-ciri emosi?
5.      Terbagi kedalam berapa kelompok emosi?
6.      Bagaimana tahap perkembangan moral pada masa kanak-kanak?
7.      Faktor apa saja yang mempengaruhi tahap perkembangan moral?
8.      Bagaimana proses perkembangan moral?
9.      Bagaimana tahap perkembangan spiritual pada masa kanak-kanak?

1.1  Tujuan
1.      Agar kita memahami bagaimana tahap perkembangan emosi pada masa kanak-kanak.
2.      Agar kita mengetahui jenis-jenis emosi pada masa kanak-kanak.
3.      Serta mengetahui tahap perkembangan moral, serta spiritual pada masa kanak-kanak.






BAB III
PEMBAHASAN
1.1              Perkembangan Emosi
Para ahli psikologi sering menyebutkan bahwa dari semua aspek perkembangan, yang paling sukar untuk diklasifikasi adalah perkembangan emosional.Reaksi terhadap emosi pada dasarnyasangat dipengaruhi oleh lingkungan, pengalaman, kebudayaan, dan sebagainya, sehingga mengukur emosi itu agaknya hampir tidak mungkin.Menurut Sarlito Wirawan Sarwono berpendapat bahwa emosi merupakan setiap keadaan pada diri seseorang yang disertai warna afektif baik pada tingkat lemah (dangkal)maupun pada tingkat yang luas (mendalam).
Menurut Jersild (1954), perkembangan emosi selama masa kanak-kanak terjalin sangat eratnya dengan sapek-aspek perkembangan yang lain. Setelah alat-alat indera anak menjadi lebih tajam , kecakapan anak untuk mengenal perbedaan-perbedaan dan untuk melakukan pengamatan pun menjadi lebih dewasa, dan setelah ia lebih melangkah ke depan dalam segala aspek perkembangannya, jumlah peristiwa yang bisa membangkitkan emosinya pun kian bertambah besar.

1.2              Jenis-jenis Emosi dan Pengelolaannya
Atas dasar arah aktivitasnya, tingkah laku emosional dapat dibagi menjadi empat macam, yaitu 1.Marah, orang bergerak menentang sumber frustasi.2. Takut, orang bergerak meninggalkan sumber frustasi. 3. Cinta, orang bergerak menuju sumber kesenangan. 4. Depresi, orang menghentikan respons-respons terbukanya dan mengalihkan emosi kedalam dirinya sendiri. (Mahmud, 1990:167)
Dari hasil penelitiannya, John B. Watson (dalam Mahmud, 1990) menemukan bahwa tiga dari keempat respons emosional tersebut terdapat pada anak-anak, yaitu takut, marah dan cinta.
1.      Takut
Pada dasarnya, rasa takutitu bermacam-macam.Ada yang timbul karena seorang anak kecil memang ditakut-takuti atau karena berlakunya berbagai pantangan di rumah.Akan tetapi, ada juga rasa takut “naluriah” yang terpendam dalam hati sanubari setiap ocial.
Ada beberapa cara untuk mengatasi rasa takut pada anak (Sobur 1987:96-97). Pertama, ciptakanlah suasana kekeluargaan / lingkungan social yang mampu menghadirkan rasa keamanan dan rasa kasih saying.Kedua, berilah penghargaan terhadap usaha-usaha anak dan pujilah bila perlu.Ketiga, tanamkan pada anak bahwa ada kewajiban social yang harus ditaati.Keempat, tumbuhkanlah pada diri anak kepercayaan serta keberanian untuk hidup, jauhkanlah ejekan dan celaan.

2.      Marah
Pada umumnya, luapan kemarahan lebih sering terlihat pada anak kecil ketimbang rasa takut.Bentuk-bentuk kemarahan yang banyak kita hadapi adalah pada anak yang berumur sampai kira-kira 4 tahun.Kemarahan yang terlihat dari tingkah laku menjatuhkan diri dilantai, menendang, menangis, berteriak dan kadang-kadang juga menahan nafas.Ini sering disebut anak ngambek atau ngadat untuk mendapatkan sesuatu. Dengan istilah lain, ngadat ini disebut temper tantrums (Gunarsa, 1980:89). Jika temper tantrums ini tidak ditanggulangi dengan baik, tingkah laku tersebut dapat dilakukan juga sesudah empat tahun. Cara-caranya bisa lebih hebat lagi, sehingga sering tidak dapat dimengrti lagi bahwa pada dasarny acara tingkah laku tersebut merupakan luapan kemarahan saja.
Berbagai factor pada orang tua yang bisa menambah seringnya anak marah-marah, antara lain, sikap orang tua yang terlalu banyak mengkritik tingkah laku anak.Karena anak dalam masa latihan dan belajar, kesalahan-kesalahan merupakan suatu hal yang umum.Namun, bagi orang tua yang bersifat suka mengkritik, setiap tingkah laku menjadi objek kritikan hal ini tentunya menimbulkan perasaan kesal pada anak yang disalurkan melalui kemarahan.
Begitu juga sikap orang tua yang terlalu cemas dan khawatir mengenai anaknya.Anak selalu dilindungi dan diawasi secara ketat, hal yang tidak bisa diterima oleh si anak.Anak merasa sangat terhambat dalam pelaksanaan keinginan-keinginannya, yang memngakibatkan lagi kemarahan.
Sama pula halnya dengan sikap orang tua yang terlalu teliti, yang belum dapat diikuti oleh anak.Sikap yang terlalu teliti, lebih-lebih dalam hal mencari kesalahan dan kekurangan anak, sering menimbulkan perasaan putus asa pada anak yang mengandung sifat-sifat dendam yang tersalur melalui kemarahan.
Novaco (1986, dalam Berkowitz, 1993) mengemukkakan bahwa amarah “bisa dipahami sebagai reaksi tekanan perasaan”.Yang mereka maksudkan pada dasarnya adalah bahwa orang cenderung menjadi marah dan terdorong menjadi agresif jika harus menghadapi keadaan yang mengganggu.
Meskipun demikian analisis Berkowitz lebih jauh lagi.Ia berpandangan bahwa bukan tekanan eksternal itu sendiri, melainkan perasaan negative yang ditimbulkan oleh tekanan itulah yang menghasilkan kecenderungan agresif dan amarah.

3.      Cinta
Setiap orang, anak-anak maupun orang dewasa, pada hakikatnya menginginkan untuk diterima sebagaimana adanya, dirinya, fisiknya, juga pribadinya secara keseluruhan dalam keluarga, termasuk didalamnya dapat menerima kelemahan dan kekurangan mereka. Kebutuhan emosi seorang anak terhadap cinta dan kasih sayang, sama besarnya dengan kebutuhan fisik akan makanan.
Banyak cara untuk mengungkapkan perasaan cinta terhadap anak. Namun cara yang terbaik untuk menimbulkan rasa cinta dan aman pada anak ialah dengan mengungkapkan rasa cinta secara terbuka dan terus terang. Bila orang tua secara terbuka telah menanamkan rasa cintanya kepada sang anak, lantas mengajarkan mereka untuk bisa mengasihi pada semua orang, ia telah memberikan kepada mereka pelajaran yang pertama yang sangat penting bagi anak itu. Kemudian cara lain umtuk mendidik anak-anak supaya menghormati orang tuanya ialah dengan memberikan kesempatan kepada mereka untuk melihat bahwa bapak dan ibu juga saling memberikan perhatian yang manis. Dengan demikian anak pun cenderung untuk mengidentifikasi apa yang dilihatnya.
Para ahli berpendapat bahwa pada garis besarnya sosial curahan kasih sayang orang tua akan tampak pengaruhnya sejak bayi berusia enam bulan, karena pada masa inilah mereka membentuk definisi pertama tentang arti kasih sayang orang tua yang sebenarnya. Jika cinta dan kasih sayang orang tua berlimpah, sikap kasih sayang anak pun akan berkembang sepenuhnya, dan mereka akan beranggapan bahwa semua orang di dunia ini pada umumnya ramah serta memiliki sikap bersahabat dan rasa kasih.

1.3              Pengaruh Emosi Terhadap Perilaku Dan Perubahan Fisik Individu
Ada beberapa contoh pengaruh emosi terhadap perilaku individu di antaranya sebagai berikut :
a.       Memperkuat semangat, apabila orang merasa senang atau puas atas hasil yang telah dicapai.
b.      Melemahkan semangat, apabila timbul rasa kecewa karena kegagalan dan sebagai puncak dari keadaan ini ialah timbulnya rasa putus asa.
c.       Menghambat atau mengganggu konsentrasi belajar, apabila sedang mengalami ketegangan emosi dan bisa juga menimbulkan sikap gugup dan gagap dalam berbicara.
d.      Terganggu penyesuaian social, apabila terjadi rasa cemburu dan iri hati.
e.       Suasana emosional yang diterima dan dialami individu semasa kecilnya akan mempengaruhi sikapnya dikemudian hari, baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap orang lain.
Sedangkan perubahan emosi terhadap perubahan fisik individu dapat dijelaskan sebagai berikut :
Jenis Emosi
Perubahan Fisik


1.      1. Terpesona
1.Reaksi elektris pada kulit

2.      2. Marah
 2.Peredaran darah bertambah cepat

3.      3. Terkejut  
 3.Denyut jantung bertambah cepat

4.      4. Kecewa
 4.Bernafas panjang

5.      5. Sakit/Marah
 5.Pupil mata membesar

6.      6. Takut/Tegang 
 6.Air liur mongering

7.      7. Takut
 7.Berdiri bulu roma

8.      8. Tegang
8.Terganggu pencernaan, otot-otot menegang, atau bergetar.


1.4              Ciri –Ciri Emosi
Emosi sebagai suatu peristiwa psikologis mengandung ocia-ciri sebagi berikut :
1.      Lebih bersifat subjektifdaripada psikologis lainnya, seperti pengamatan dan berfikir.
2.      Bersifat fluktuatif (tidak tetap)
3.      Banyak bersangkut paut dengan peristiwa pengenalan panca indera.

1.5              Pengelompokan Emosi 
Emosi dapat dikelompokkan kedalam dua bagian, yaitu emosi sensoris dan emosi kejiwaan (psikis).
1.      Emosi Sensoris yaitu emosi yang ditimbulkan oleh rangsangan dari luar terhadap tubuh, seperti rasa dingin, manis, sakit, lelah, kenyang dan lapar.
2.      Emosi Psikis yaitu emosi yang mempunyai social alasan kejiwaan. Yang termasuk emosi ini adalah :
a.       Perasaan Intelektual yaitu yang mempunyai sangkut paut dengan ruang lingkup kebenaran. Perasaan ini diwujudkan dalam bentuk rasa yakin dan tidak yakin terhadap suatu hasil karya ilmiyah, rasa gembira karena mendapat suatu kebenaran dan rasa puas karena dapat menyelesaikan persoalan-persoalan ilmiah yang harus dipecahkan.
b.      Perasaan Sosial yaitu persoalan yang menyangkut hubungan dengan orang lain, baik bersifat perorangan maupun kelompok. Wujud persoalan ini seperti rasa solidaritas, persaudaraan, simpati, kasih sayang dan sebagainya.
c.       Perasaan Susila yaitu perasaan yang berhubungan dengan nilai-nilai baik dan buruk atau etika (moral). Contohnya rasa tanggung jawab, rasa bersalah apabila melanggar norma, rasa tentram dalam menaati norma.
d.      Perasaan Keindahan yaitu perasaan yang berkaitan erat dengan keindahan dari sesuatu, baik bersifat kebendaan maupun kerohanian.
e.       Perasaan Ketuhanan. Salah satu kelebihan manusian sebagai makhluk tuhan, dianugrahi fitrah (kemampuan atau perasaan) untuk mengenal tuhannya.dengan kata lain manusia dikaruniai insting religius. Karena memiliki fitrah ini, kemudian manusia dijuluki sebagai “homo divinans” dan “homo religius” yaitu sebagai makhlik yang berke-tuhan-an dan makhluk beragama.

2.6              Tahap Perkembangan Moral
Pengertian Moral
Istilah moral berasal dari kata latin “mos” (Moris), yang berarti adat istiadat, kebiasaan, peraturan/nilai-nilai atau tata cara kehidupan. Sedangkan moralitas merupakan kemauan untuk menerima dan melakukan peraturan, nilai-nilai atau prinsip-prinsip moral.Nilai-nilai moral itu seperti seruan untuk berbuat baik kepada orang lain, memelihara ketertiban dan keamanan, memelihara kebersihan dan memelihara hak orang lain, dan larangan mencuri, berzina, membunuh, meminum minuman keras dan berjudi.Seseorang dapat dikatakan bermoral, apabila tingkah laku orang tersebuts sesuai dengan nilai-nilai moral yang dijunjung tinggi oleh kelompok sosialnya.

2.7              Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Moral
Perkembengan moral seorang anak banyak dipengaruhi oleh lingkungannya.Anak memperoleh nilai-nilai moral dari lingkungannya, terutama dari orang tua. Beberapa sikap orang tua yang perlu diperhatikan sehubungan dengan perkembangan moral anak, diantaranya sebagai berikut :
1.      Konsisten dalam mendidik anak
2.      Sikap orang tua dalam keluarga
3.      Penghayatan dan pengamalan agama yang dianut
4.      Sikap konsisten orang tua dalam menerapkan norma

2.8              Proses Perkembangan Moral
Perkembangan moral anak dapat berlangsung melalui beberapa cara sebagai berikut :
1.      Pendidikan Langsung yaitu melalui penanaman pengertian tentang tingkah laku yang benar dan salah, atau baik dan buruk oleh orang tua, guru atau orang dewasa lainnya.
2.      Identifikasi yaitu dengan cara mengidentifikasi atau meniru penampilan atau tingkah laku moral seseorang yang menjadi idolanya seperti orang tua, guru, kiai, artis atau oaring dewasa lainnya.
3.      Proses Coba-Coba yaitu dengan cara mengembangkan tingkah laku moral secara coba-coba. Tingkah laku yang mendatangkan pujian atau penghargaan akan terus dikembangkan , sementara tingkah laku yang mendatangkan hukuman atau celaan akan dihentikannya.

2.9              Tahap Perkembangan Beragama / Spiritual
Salah satu kelebihan manusia sebagai makhluk Allah Swt, adalah dia dianugrahi fitrah untuk mengenal Allah dan melakukan ajaran-Nya. Dalam kata lain, manusia dikatakan insting religius. Karena memiliki fitrah ini, kemudian manusia dijuluki sebagai “Homo Devinanas” dan “ Homo Religious”.
Fitrah beragama ini merupkan disposisi (kemampuan dasar) yang mengandung kemungkinan atau berpeluang untuk berkembang. Namun, mengenai arah dan kualitas perkembangan beragama anak sangat bergantung kepada proses pendidikan yang diterimanya. Hal ini sebagaimana yang telah dinyatakan oleh Nabi Muhammad Saw :“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, hanya karena orangtuanyalah, anak itu menjadi yahudi, nasrani, atau majusi”.
Jiwa beragama atau kesadaran beragam meruju kepada aspek rohaniah individu yang berkaitan dengan keimanan kepada Allah yang direfleksikan kedalam peribatan kepada-Nya, baik yang bersifat hablumminallah maupun hablumminannas.
Perkembangan beragama seseorang dipengaruhi oleh faktor-faktor pembawaan dan lingkungan.
1.      Faktor Pembawaan (Internal)
Perbedaan hakiki antara manusia dan hewan adalah bahwa manusia mempunyai fitrah beragama. Setiap manusia yang lahir kedunia ini, baik yang lahir dinegara komunis maupun kapitalis, baik yang lahir dari orang tua yang shaleh maupun jahat, sejak Nabi Adam sampai akhir jaman, menurut fitrah kejadiannya mempunyai potensi beragama atau keimanan kepada tuhan atau percaya adanya kekuatan diluar dirinya yang mengatur hidup dan kehidupan alam semesta.
Dalam perkembangannya, fitrah beragama ini ada yang berjalan secara alamiah dan ada juga yang mendapat bimbingan dari para rasul Allah Swt, sehingga fitrahnya itu berkembang sesuai dengan kehendak Allah Swt.
2.      Faktor Lingkungan (Eksternal)
Perkembangan tidak akan terjadi manakala tidak ada faktor eksternal yang memberikan rangsangan atau stimulus yang memungkinkan fitrah itu berkembang dengan sebaik-baiknya. Faktor eksternal itu tiada lain adalah lingkungan dimana individu itu hidup. Lingkungan itu adalah keluarga, sekolah dan masyarakat.

a.       Lingkungan Keluarga
Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama bagi anak, oleh karena itu kedudukan keluarga dalam pengembangan kepribadian anak sangatlah dominan.Dalam hal ini, orang tua mempunyai peranan yang sangat penting dalam menumbuh kembangkan fitrah beragama anak.
Dalam mengembangkan fitrah beragama anak dalam lingkungan keluarga, maka ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian orang tua yaitu sebagai berikut :
1.      Karena orangtua merupakan Pembina pribadi yang pertama bagi anak, dan tokoh yang diidentifikasi atau ditiru anak, maka sayoginya dia memiliki kepribadian yang baik atau berakhlakul karimah.
2.      Orangtua hendaknya memperlakukan anaknya dengan baik, yaitu dengan memberikan curahan kasih sayang yang ikhlas, bersikap respek/menghargai pribadi anak, menerima anak sebagaimana biasanya, mau mendengar keluhan/pendapat anak, memaafkan kesalahan anak dan meluruskan kesalahan anak dengan pertimbangan atau alas an-alasan yang tepat.
3.      Orangtua hendaknya memelihara hubungan harmonis antar keluarga. Hubungan harmonis, penuh dengan perhatian dan kasih sayang akan membuahkan perkembangan prilaku anak yang baik.
4.      Orangtua hendaknya membimbing, mengajarkan atau melatihkan ajaran agama terhadap anak. Seperti syahadat, shalat (bacaan dan gerakan), berwudlu, doa-doa, bacaan al-qur’an dan sebagainya.
b.      Lingkungan Sekolah
Menurut Hurlock (1959:561) pengaruh sekolah terhadap perkembangan kepribadian anak sangat besar, karena sekolah merupakan substitusi dari keluarga dan guru-guru substitusi dari orangtua.
Dalam kaitannya dengan upaya pengembangan fitrah beragama para siswa, maka sekolah terutama dalam hai ini guru agama mempunyai peranan yang sangat penting dalam mengembangkan wawasan pemahaman, pembiasaan mengamalkan ibadah atau akhlak yang mulia dan sikap apresiatif terhadap ajaran agama.
Agar dapat melaksanakan tugas tersebut, maka guru agama dituntut untuk memiliki karakteristik sebagai berikut.
1.      Kepribadian yang mantap (akhlak mulia) seperti jujur, bertanggung jawan, berkomitmen terhadap tugas, disiplin dalam bekerja, kreatif, dan respek terhadap siswa.
2.      Menguasai disiplin ilmu dala Bidang Studi Pendidikan Agama Islam.
3.      Memahami ilmu-ilmu lain yang relevan atau menunjang kemampuannya dalam mengelola proses belajar mengajar.
Faktor lain yang menunjang perkembangan fitrah beragama siswa adalah :
1.      Kepedulian kepada sekolah, guru-guru dan staf sekolah lainnya terhadap pelaksanaan pendidikan agama.
2.      Tersedianya sarana ibadah yang memadai dan memfungsikannya secara optimal.
3.      Penyelenggaraan kegiatan ekstrakurikuler kerohanian bagi para siswa dan ceramah-cermah atau diskusi keagamaan secara rutin.

c.       Lingkungan Masyarakat
Yang dimaksud lingkungan masyarakat disini adalah situasi atau kondisi interaksi sosial yang secara potensial berpengaruh terhadap perkembangan fitrah beragama atau kesadaran beragama individu. Dalam masyarakat, individu (terutama anak-anak dan remaja) akan melakukan interaksi sosial dengan teman sebayanya atau anggota masyarakat lainnya. Apabila teman sepergaulannya itu menampilkan prilaku yang sesuai dengan nilai-nilai agama, maka anak remajapun akan cenderung berakhlak baik. Namun apabila temannya menampilkan prilaku kurang baik, melanggar norma-norma agam, maka anak cenderung akan terpengaruh untuk mengikuti prilaku tersebut. Hal ini akan terjadi apabila anak kurang mendapatkan bimbingan dalam keluarga.
Kualitas pribadi atau prilaku orang dewasa yang kondusif bagi perkembangan kesadaran beragama anak adalah taat melaksanakan kewajiban agama seperti ibadah ritual, menjalin persaudaraan, saling menolong dan bersikap jujur, menghindari diri dari sikap dan prilaku yang dilarang agama seperti sikap permusuhan, saling curiga, munafik, mengambil hak orang lain dan prilaku maksiat lainnya.
BAB III
PENUTUPAN
3.1  Kesimpulan
Para ahli psikologi sering menyebutkan bahwa dari semua aspek perkembangan, yang paling sukar untuk diklasifikasi adalah perkembangan emosional.Reaksi terhadap emosi pada dasarnya sangat dipengaruhi oleh lingkungan, pengalaman, kebudayaan, dan sebagainya, sehingga mengukur emosi itu agaknya hampir tidak mungkin.
Jenis-jenis Emosi dan Pengelolaannyapada anak menurut John B. Watson (dalam Mahmud, 1990) ada tiga yaitu, takut, marah dan cinta.
Tahap Perkembangan Moral
Seseorang dapat dikatakan bermoral, apabila tingkah laku orang tersebuts sesuai dengan nilai-nilai moral yang dijunjung tinggi oleh kelompok sosialnya.
Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Moral
1.      Konsisten dalam mendidik anak
2.      Sikap orang tua dalam keluarga
3.      Penghayatan dan pengamalan agama yang dianut
4.      Sikap konsisten orang tua dalam menerapkan norma
Tahap Perkembangan Beragama / Spiritual
Perkembangan beragama seseorang dipengaruhi oleh faktor-faktor pembawaan dan lingkungan.
1.      Faktor Pembawaan (Internal)
2.      Faktor Lingkungan (Eksternal), seperti Lingkungan Keluarga, Lingkungan Sekolah dan Lingkungan Masyarakat.

3.2  Saran
Penulis telah berusaha dengan segala kemampuan dan keterbatasan yang ada untuk menyusun makalah ini dengan sebaik-baiknya. Namun manusia tidak luput dari kekurangan yang dimilikinya, mengingat keterbatasan kemampuan, pengalaman, waktu, serta pengetahuan. Penulis menyadari makalah ini jauh dari sempurna, baik dalam hal penyajian mau pun pengetahuan bahasa. Oleh karena itu kami akan menerima dengan terbuka dan senang hati atas segala saran dan kritikan yang menuju pada perbaikan.
Akhir kata penulishanya berharap semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi pembaca pada umumnya serta bagi kami khususnya dalam mengembangkan ilmu pengetahuan.


DAFTAR PUSTAKA
Sobur, Alex.2011.Psikologi Umum.Pustaka.Bandung: Setia.
Syamsu, Yusuf .2011.Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja.Bandung:PT Remaja Rosdakarya.
www.google.com