halaman

Minggu, 22 November 2015

PENGERTIAN, TUJUAN, FUNGSI, SERTA PRINSIP-PRINSIP BIMBINGAN DAN KONSELING



PENGERTIAN, TUJUAN, FUNGSI, SERTA PRINSIP-PRINSIP BIMBINGAN DAN KONSELING
 
A.    Pengertian Bimbingan dan Konseling
1.      Pengertian Bimbingan
Pada dasarnya, bimbingan merupakan upaya pembimbing untuk membantu mengoptimalkan individu. Donald G. Mortensen dan Alan M. Schmuller (1976) menyatakan, guidance may be defined as that part of the total educational program that helps provide the personal apportunities and specialized staff services by wich each individual can develop to the fulles of his abilities and capacities in term of the democratic idea.
Model bimbingan yang berkembang saat ini adalah bimbingan dan perkembangan. Visi bimbingan perkembangan bersifat edukatif, pengembangan dan outreach. Edukatif karena titik berat layanan bimbingan perkembangan ditekankan pada pencegahan dan pengembangan, bukan korektif atau terapeutik, walaupun layanan tersebut juga tidak diabaikan. Pengembangan karena titik sentral sasaran bimbingan perkembangan adalah perkembangan optimal seluruh aspek kepribadian individu dengan strategi/ upaya pokoknya memberikan kemudahan perkembangan melalui perekayasaan lingkungan perkembangan. Outreach karena target populasi layanan bimbingan perkembangan tidak terbatas paada individu yang bermasalah, tetapi semua individu berkenaan dengan semua aspek kepribadiannya dalam semua konteks kehidupan (masalah, target intervensi, setting, metode, dan lama waktu layanan). Teknik bimbingan yang digunakan meliputi teknik-teknik pembelajaran, pertukaran informasi, bermain peran, tutorial, dan konseling (Muro and Kottman, 1995:5).
Bimbingan perkembangan di lingkungan pendidikan merupakan pemberian bantuan kepada seluruh peserta didik yang dilakukan secara berkesinambungan agar mereka dapat memahami dirinya, lingkungan dan tugas-tugasnya sehingga mereka sanggup mengarahkan diri, dan menyesuaikan pendidikan, keadaan keluarga, masyarakat dan lingkungan kerja yang akan dimasukinya kelak. Dengan pemberian layanan bimbingan, mereka lebih produktif, dapat menikmati kesejahteraan hidupnya, dan dapat memberi sumbangan yang berarti pada lembaga tempat mereka bekerja kelak, serta masyarakat pada umumnya. Pemberian bimbingan juga membantu mereka mencapai tugas-tugas perkembangannya secara optimal.
2.      Pengertian Konseling
Berikut ini dikemukakan beberapa definisi konseling. Shertzer dan Stone (1980) telah membahas berbagai definisi yang terdapat di dalam literature tentang konseling. Dari hasil bahasanya itu, mereka sampai pada kesimpulan, bahwa counseling is an interaction process which facilitates meaningful understanding of self and environment and result in the establishment and/or clarification of goals and values of future behavior.
Konseling adalah upaya membantu individu melalui proses interaksi yang besifat pribadi antara konselor dan konseli agar konseli mampu memahami diri dan lingkungannya, mampu membuat keputusan dan menentukan tujuan berdasarkan nilai yang diyakininya sehingga konseli merasa bahagia dan efektif perilakunya.
Lebih jauh, pietrofesa dan kawan-kawan menunjukkan sejumlah ciri-ciri konseling professional sebagai berikut.
a.       Konseling merupakan suatu hubungan professional yang diadakan oleh seorang konselor yang sudah dilatih untuk pekerjaannya itu.
b.      Dalam hubungan yang bersifat professional itu, klien mempelajari keterampilan pengambilan keputusan, penyelesaian masalah, serta tingkah laku atau sikap-sikap baru.
c.       Hubungan professional itu dibentuk berdasarkan kesukarelaan antaraa klien dan konselor.
ASCA (American School Counselor Assosiation) mengemukakan, bahwa konseling adalah hubungan tatap muka yang bersifat rahasia, penuh dengan sikap penerimaan dan pemberian kesempatan dari konselor kepada klien. Konselor mempergunakan pengetahuan dan keterampilannya untuk membantu klien mengatasi masalah-masalahnya.
Adanya perbedaan definisi konseling tersebut, selain ditimbulkan karena perkembangan ilmu konseling itu sendiri, juga disebabkan oleh perbedaan pandangan ahli yang merumuskannya tentang konseling dan aliran atau teori yang dianutnya. Dalam bidang konseling terdapat berbagai aliran dan teori yang kemudian dikelompokkan ke dalam beberapa model kategori pula. Ada ahli yang mengklasifikasi konseling berdasarkan fungsinya menjadi tiga kelompok, yaitu Suportif, reedukatif, dan rekonstruktif (Moh. Djawad Dahlan, 1986). Konseling juga dibedakan berdasarkan metodenya, yaitu metode direktif dan nondirektif. Osipow, Walsh, dan Tosi (1980) mengelompokkan konseling berdasarkan penekanan masalah yang diselesaikannya, yaitu penyesuaian pribadi, pendidikan, dan karier. Shertzer dan Stone (1980) mengelompokkan konseling berdasarkan kawasan atau ranah perilaku yang merupakan kepeduliannya, yaitu konseling yang berorientasi pada ranah kognitif dan konseling yang berorientasi pada ranah afektif. Ahli lain Patterson (1966) secara lebih rinci mengelompokkan pendekatan konseling menjadi lima kelompok, yaitu pendekatan rasional, teori belajar, psikoanalitik, perseptual-fenomenologis, dan eksistensial.
Uraian tersebut menggambarkan betapa sulit merumuskan definisi konseling yang kompherensif dan berlaku untuk setiap orang dari berbagai aliran. Namun demikian, berikut ini di uraikan beberapa generalisasi yang menggambarkan karakteristik utama kegiatan konseling.
a.       Konseling merupakan salah satu bentuk hubungan yang bersifat membantu. Makna bantuan itu sendiri, yaitu sebagai upaya untuk membantu orang lain agar ia mampu tumbuh kea rah yang dipilihnya sendiri, mampu menyelesaikan masalah yang dihadapinya dan mampu menghadapi krisis-krisis yang dialami dalam kehidupannya. Tugas  konselor adalah menciptakan kondisi-kondisi fasilitatif yang diperlukan bagi pertumbuhan dan perkembangan klien.
b.      Hubungan dalam konseling bersifat interpersonal. Hubungan konseling terjadi dalam bentuk wawancara secara tatap muka antara konselor dengan klien. Hubungan itu tidak hanya bersifat kognitif dan dangkal, tetapi melibatkan semua unsur kepribadian dari kedua belah pihak yang meliputi pikiran, perasaan, pengalaman, nilai-nilai, kebutuhan, harapan, dan lain-lain. Dalam proses konseling, kedua belah pihak hendaknya menunjukkan kepribadian yang asli. Hal ini dimungkinkan karena konseling itu dilakukan secara pribadi dan dalam suasana rahasia.
c.       Keefektifan konseling sebagian besar ditentukan oleh kualitas hubungan antara konselor dan kliennya. Dilihat dari segi konselor, kualitas hubungan itu bergantung pada kemampuannya dalam menerapkan teknik-teknik konseling dan kualitas pribadinya.

B.     Tujuan Bimbingan dan Konseling
1.      Tujuan Bimbingan
Tujuan pemberian layanan bimbingan ialah agar individu dapat (1) merencanakan kegiatan penyelesaian studi, perkembangan karier, serta kehidupannya pada masa yang akan dating; (2) mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang dimilikinya seoptimal mungkin; (3) menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan, lingkungan masyarakat, serta lingkunan kerjanya; dan (4) mengatasi hambatan serta kesulitan yang dihadapi dalam studi, penyesuaian dengan lingkungan pendidikan, masyarakat, ataupun lingkungan kerja.
Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut, maka harus mendapatkan kesempatan untuk (1) mengenal dan memahami potensi, kekuatan, serta tugas-tugasnya; (2) mengenal dan memahami potensi-potensi yang ada di lingkungannya; (3) mengenal dan menentukan tujuan, rencana hidupnya, serta rencana pencapaian tujuan tersebut; (4) memahami dan mengatasi kesulitan-kesulitan sendiri; (5) menggunakan kemampuannya untuk kepentingan dirinya, lembaga tempat bekerja dan masyarakat; (6) menyesuaikan diri dengan keadaan dan tuntunan dari lingkungannya; serta (7) mengembangkan segala potensi dan kekuatan yang dimilikinya secara tepat, teratur, dan optimal.
2.      Tujuan Konseling
Dari seluruh pengertian konseling yang ada, Shartzer dan Stone (1980: 8288) menyimpulkan, bahwa yang menjadi tujuan konseling pada umumnya dan di sekolah pada khususnya adalah sebagai berikut.
a.       Mengadaakan perubahan perilaku pada diri klien sehingga memungkinkan hidupnya lebih produktif dan memuaskan. Khusus di sekolah, Boy dan Pine (Depdikbud, 1983: 14) menyatakan, bahwa tujuan konseling adalah membantu siswa menjadi lebih matang dan lebih mengaktualisasikan dirinya, membantu siswa maju dengan cara yang positif, membantu dalam sosialisasi siswa dengan memanfaatkan sumber-sumber dan akibat dari wawasan baru yang diperoleh, maka timbullah pada diri siswa reorientasi positif terhadap kepribadian dan kehidupannya.
b.      Memelihara dan mencapai kesehatan mental yang positif. Jika hal ini tercapai, maka individu mencapai integrasi, penyesuaian, dan identifikasi positif dengan yang lainnya. Ia belajar menerima tanggung jawab, berdiri sendiri, dan memperoleh integrasi perilaku.
c.       Penyelesaian masalah. Hal ini berdasarkan kenyataan, bahwa individu-individu yang mempunyai masalah tidak mampu menyelesaikan sendiri masalah yang dihadapinya. Di samping itu, biasanya siswa dating kepada konselor karena ia percaya bahwa konselor dapat membantu menyelesaikan masalahnya.
d.      Mencapai keefektivan pribadi. Sehubungan dengan ini, Blocher mengatakan bahwa, yang dimaksud dengan pribadi yang efektif adalah pribadi yang sanggup memperhitungkan diri, waktu, dan tenaganya, serta bersedia memikul risiko-risiko ekonomis, psikologis, dan fisik. Ia tampak memiliki kemampuan untuk mengenal, mendefinisikan, dan menyelesaikan masalah-masalah. Ia tampak konsisten terhadap dan dalam situasi peranannya yang khas. Ia tampak sanggup berpikir secara berbeda dan orisinil, yaitu dengan cara-cara yang kreatif. ia juga sanggup mengontrol dorongan-dorongan dan memberikan respons-respons yang wajar terhadap frustasi, permusuhan, dan ambiguitas.
e.       Mendorong individu mampu mengambil keputusan yang penting bagi dirinya. Di sini, jelas bahwa pekerjaan konselor bukan menentukan keputusan yang harus diambil oleh klien atau memilih alternative dari tindakannya. Keputusan-keputusan ada pada diri klien sendiri. Ia harus tahu mengapa dan bagaimana ia melakukannya. Oleh sebab itu, klien harus belajar mengestimasi konsekuensi-konsekuensi yang mungkin yang terjadi dalam pengorbanan pribadi, waktu, tenaga, uang, risiko, dan sebagainya. Individu belajar memerhatikan nilai-nilai dan ikut mempertimbangkan yang dianutnya secara sadar dalam pengambilan keputusan.

C.    Fungsi Bimbingan dan Konselor
Fungsi bimbingan dan konseling secara umum adalah sebagai fasilitator dan motivator client dalm upaya mengatasi dan mencegah problema kehidupan client dengan kemampuan yang ada pada diri sendiri. Sesuai dengan uraian sebelumnya bahwa bimbingan dan konseling bertujuan agar peserta didik dapat menemukan dirinya, mengenal dirinya dan mampu merencanakan masa depannya.
Dalam hubungan ini bimbingan dan konseling berfungsi sebagai pemberi layanan kepada preseta didik agar masing-masing peserta didik dapat berkembang secara optimal sehingga menjadi pribadi yang utuh dan mandiri oleh karna itu pelayanan bimbingan dan konseling mengembangkan sejumlah fungsi yang hendak dipenuhi melalui kegiatan bimbingan dan konseling. Fungsi-fungsi tersebut adalah:

1.      Fungsi pemahaman
Yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang akan menghasilkan pemahaman tentang suatu oleh pihak-pihak tertentu sesuai dengan kepentingan dan perkembangan peserta didik. Fungsi pemahaman ini meliputi:
Pemahaman tentang diri peserta didik sendiri terutama oleh peserta didik sendiri, orang tua, guru pada umumnya dan guru pembimbing.
Pemahaman tentang lingkungan peserta didik termasuk dalam lingkungan keluarga dan sekolah terutama oleh peserta didik sendiri, orang tua, guru pada umumnya dan guru pembimbing.
Pemahaman tentang lingkungan yang lebih luas (termasuk didalamnya informasi pendidikan, informasi jabatan, perkerjaan dan informasi social dan budaya atau nilai-nilai) terutama oleh peserta didik.
2.      Fungsi pencegahan
            Pencegahan didefinisikan sebagai upaya mempengaruhi dengan cara yang positif dan bijaksana lingkungan yang dapat menimbulkan kesulitan atau kerugian sebelum kesulitan atau kerugian itu benar-benar terjadi.fungsi bimbingan dan konseling yang akan menghasilkan pencegahannya atau terhindarnya peserta didik dari berbagai permasalahan yang mungkin timbul yang akan dapat menggangu, menghambat ataupun menimbulkan kesulitan kurugian-kerugian tertentu dalam proses perkembangannya.
Upaya pencegahan
            Secara operasional konselor perlu menampilkan kegiatan dalam rangka pelaksanaan fungsi pencagahan:
1.      Identifikasi pemesalahan yang mungkin timbul
2.      Mengindentifikasi dan menganalisis sumber-sumber penyebab tinbulnya masalah-masalah
3.      Mengidentifikasi pihak-pihak yang dapat membantu pencegahan masalah tersebut
4.      Menyusun rencana program pencegahan
5.      Pelaksanaan dan monitoring
6.      Evaluasi dan laporan
3.      Fungsi pengentasan
            Dalam pelayanan bimbingan dan konseling pemberian label atau berasumsi bahwa peserta didik atau klien adalah orang sakit atau rusak sama sekali tidak boleh dilakukan.
            Melalui fungsi pengentasan ini pelayan bimbingan dan konseling dapat mengatasi berbagai masalah yang dialami oleh peserta didik.
4.      Fungsi Pemeliharaan dan Pengembangan
            Adalah fungsi bimbingan dan konseling yang akan menghasilkan terpeliharanya dan terkembangnya berbagai potensi dan kondisi positif peserta didik dalam rangka perkembangan dirinya secara terarah mantap dan berkelanjutan.
5.      Fungsi Advokasi
            Fungsi advokasi yanitu fungsi bimbingan dan konseling yang akan menghasilkan teradvokasi atau pembelaan terhadap peserta didik dalam rangka upaya pengembangan seluruh potensi secara optimal.
            Fungsi-fungsi tersebut diwujudkan melalui diselenggarakannya berbagai jenis ayanan dan kegiatan bimbingan dan di dalam masing-masing fungsi tersebut. Setiap layanan dan kegiatan bimbingan konseling yang dilaksanakan harus secara langsung mengacu kepada satu atau lebih fungsi-fungsi tersebut agar hasil-hasil yang hendak dicapainya jelas dapat diidentifikasi dan dievaluasi.
            Secara keseluruhan, jika semua fungsi-fungsi itu telah terlaksana dengan baik, dapatlah bahwa pesert didik akan mampu berkembang secara optimal pula. Keterpaduan semua fungsi tersebut akan sangat membantu perkembangan peserta didik secara terpada pula.

D.    Prinsip-prinsip Bimbingan dan Konseling
        Prinsip-prinsip yang dimaksud adalah hal-hal yang menjadi pegangan dalam proses bimbingan dan konseling. Prinsip-prinsip ini berasal dari konsep-konsep filosofis tentang kemanusiaan yang menjadi dasar bagi pemberian layanan bantuan atau bimbingan, baik disekolah maupun diluar sekolah. Prinsip-prinsip itu adalah sebagai berikut :
1.      Bimbingan diperuntukkan bagi semua individu (guidance is fo all individuals).
        Prinsip ini berarti bahwa bimbingan diberikan kepada semua individu atau peserta didik, baik yang tidak bermasalah maupun yang bermasalah.Pendekatan yang digunakan dalam bimbingan lebih bersifat preventif dan pengembangan daripada penyembuhan (kuratif) dan lebih diutamakan teknik kelompok daripada perseorangan (individual).
2.  Bimbingan bersifat individualisasi
        Setiap individu bersifat unik (berbeda satu sama lainnya), dan melalui bimbingan individu dibantu untuk memaksimalkan perkembangan keunikannya tersebut. Prinsip ini juga berarti bahwa yang menjadi focus sasaran bantuan adalah individu, meskipun layanan bimbingannya menggunakan kelompok.
3.    Bimbingan menekankan hal yang positif
        Bimbingan merupakan proses bantuan yang menekankan kekuatan dan kesuksesan, karena bimbingan merupakan cara untuk membangun pandangan yang positif terhadap diri sendiri, memberikan dorongan, dan peluang untuk berkembang.

4.    Bimbingan merupakan usaha bersama
        Bimbingan bukan hanya tugas atau tanggung jawab konselor, tetapi juga tugas guru-guru dan kepala sekolah. Mereka sebagai teamwork terlibat dalam proses bimbingan.
5.    Pengambilan keputusan merupakan hal yang esensial dalam bimbingan
        Bimbingan diarahkan untuk membantu individu agar dapat melakukan pilihan dan mengambil keputusan.Bimbingan mempunyai peranan untuk memberikan informasi dan nasihat kepada individu, yang itu semua sangat penting baginya dalam mengambil keputusan.Kehidupan individu diarahkan oleh tujuannya, dan bimbingan memfasilitasi individu untuk mempertimbangkan, menyesuaikan diri, dan meyempurnakan tujuan melalui pengambilan keputusan yang tepat.
6.    Bimbingan berlangsung dalam berbagai setting (adegan) kehidupan
        Pemberian layanan bimbingan tidak hanya berlangsung disekolah, tetapi juga dilingkungan keluarga,dan masyarakat pada umumnya. Bidang layanan bimbingan pun bersifat multi aspek, yaitu meliputi aspek pribadi, sosial, pendidikan dan pekerjaan.
1)      Menurut Haditono 12 prinsip bimbingan adalah sebagai berikut :
2)      Bimbingan dan konseling dimaksudkan untuk anak-anak, orang dewasa, dan orang-orang yang sudah tua.
3)      Tiap aspek dari kepribadian seseorang menentukkan tingkah laku orang itu.
4)      Usaha-usaha bimbingan pada prinsipnya harus menyeluruh kesemua orang karena semua orang mempunyai berbagai masalah yang butuh pertolongan.
5)      Semua guru disekolah seharusnya menjadi pembimbing karena semua murid juga membutuhkan bimbingan.
6)      Sebaiknya semua usaha pendidikan adalah bimbingan sehingga alat-alat dan teknik mengajar juga sebaiknya mengandung suatu dasar pandangan bimbingan.
7)      Dalam memberikan suatu bimbingan harus diingat bahwa semua orang, mempunyai perbedaan-perbedaan individual dan perbedaan tersebut yang harus diperhatikan.
8)      Supaya bimbingan dapat berhasil dengan baik, dibutuhkan pengertian yang mendalam mengenai orang yang dibimbing.
9)      Memerlukan sekumpulan catatan  mengenai kemajuan dan keadaan anak yang dibimbing.
10)  Dibutuhkan kerjasama yang baik antara pembimbing dengan masyarakat yang mempunyai hubungan denga bimbingan.
11)  Bagi anak-anak, sikap orang tua dan suasana rumah sangat mempengaruhi tingkah laku mereka. Tanpa bantuan dan pengertian orang tua, usaha bimbingan kadang-kadang hampir tidak dapat dicari jalan keluarnya.
12)  Fungsi dari bimbingan adalah  menolong orang supaya berani dan dapat memikul tanggung jawab sendiri dalam mengatasi kesukaran yang dialaminya, yang hasilnya apat berupa kemajuan dari keseluruhan pribadi orang yang bersangkutan.
13)  Usaha bimbingan harus bersifat flexible sesuai dengan kebutuhan dan keadaan masyarakat, serta kebutuhan individual.


DAFTAR PUSTAKA

Achmad Juntika Nurihsan. (2006). Bimbingan & Konseling dalam Berbagai Latar Kehidupan. Bandung: PT Refika Aditama.
M. Arifin, Teori-Teori Konseliang, Umum Dan Agama (Jakarta, PT Golden Terayon Press: 1996) hal 23
Prayitno, Erman Amti, Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling.Jakarta, Rineka Cipta, 2004, Hal  208
Yusuf, Syamsu dan Juntika Nurihsan.2005. Landasan Bimbingan dan Konseling. Bandung : PT Remaja Rosdakarya
Yusuf, Syamsu. 2006. Program Bimbingan dan Konseling (SLTP dan SLTA). Bandung : Pustaka Bani Quraisy
Walgito, Bimo. 2010. Bimbingan + Konseling (Studi & Karier). Yogyakarta : CV Andi Offset
http://andasayabisa.blogspot.com/2012/06/konsep-dasar-bimbingan-dan-konseling.html